Dunia

Dunia di Ambang Krisis – Tinggi Permukaan Laut Naik 2 Kali Lipat dalam 10 Tahun

g Krisis, Kenaikan Permukaan Laut Meningkat 2 Kali Lipat dalam 10 Tahun Dunia di Ambang Krisis - Kenaikan permukaan laut dalam sepuluh tahun terakhir semakin

Desk Dunia
Published Juni 11, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Dunia di Ambang Krisis, Kenaikan Permukaan Laut Meningkat 2 Kali Lipat dalam 10 Tahun

Dunia di Ambang Krisis – Kenaikan permukaan laut dalam sepuluh tahun terakhir semakin memperlihatkan tanda-tanda mengkhawatirkan. Laporan World Ocean Assessment III (WOA III), yang diinisiasi oleh PBB, menyoroti bahwa tekanan terhadap samudra terus meningkat secara komulatif, meliputi polusi, eksploitasi industri perikanan, dan dampak perubahan iklim. Laporan ini memberikan gambaran bahwa kondisi laut kini tidak lagi bisa dianggap sebagai hal yang biasa, dan manusia harus mengubah cara memandang samudra sebagai sumber daya yang terbatas.

Situasinya tidak lagi bisa dianggap normal. Kita tidak bisa terus memperlakukan laut sebagai sumber daya tak terbatas,” kata Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, seperti yang dikutip dari kantor berita Antara, pada Kamis (11/6).

Menurut Guterres, dunia perlu membangun hubungan baru dengan laut. Untuk mewujudkan hal ini, PBB menyerukan kerja sama global yang didasarkan pada ilmu pengetahuan dan hukum internasional. Tindakan kolektif dianggap krusial untuk menjaga fungsi samudra sebagai penyangga kehidupan di bumi.

Permukaan Laut Naik 2 Kali Lipat, Suhu Makin Panas

Laporan WOA III mencatat bahwa laju kenaikan permukaan laut mengalami peningkatan signifikan. Sebelum tahun 2015, rata-rata kenaikan permukaan laut mencapai 2 milimeter per tahun, namun pada 2023, angka tersebut melonjak menjadi 4,3 milimeter per tahun, atau naik dua kali lipat. Angka ini menunjukkan kecepatan yang lebih mengkhawatirkan dibandingkan masa sebelumnya.

Lebih dari itu, sekitar 16 persen dari total peningkatan kandungan panas laut sejak 1955 terjadi hanya dalam periode 2018-2023. Para ahli menilai tren ini menandakan percepatan yang berpotensi mengancam ekosistem laut dan kehidupan manusia. Data ini menggarisbawahi bahwa suhu laut semakin meningkat, dan fenomena tersebut memberikan tekanan yang lebih besar terhadap lingkungan bumi.

Penelitian Melibatkan Lebih dari 650 Ahli dari Banyak Negara

WOA III merupakan hasil riset yang melibatkan lebih dari 650 ilmuwan dari puluhan negara. Mereka mengevaluasi kondisi samudra dunia selama periode 2021-2025, yang menunjukkan bahwa perubahan iklim dan aktivitas manusia berdampak signifikan terhadap ekosistem laut. Tanpa tindakan bersama, laporan ini memperingatkan bahwa kapasitas laut sebagai penyangga kehidupan akan berkurang secara signifikan.

Para peneliti menekankan bahwa kenaikan permukaan laut tidak hanya bersifat lokal, tetapi memengaruhi seluruh dunia. Fenomena ini menunjukkan bahwa polusi, perubahan iklim, serta eksploitasi sumber daya laut secara massal sudah menyebabkan dampak yang lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya. Selain itu, kenaikan suhu laut berpotensi mempercepat proses pemanasan global, yang akhirnya bisa memperburuk situasi.

Ekosistem Rusak, Banjir Rob, Hingga Krisis Pangan

Laporan ini juga menyebutkan bahwa industri perikanan skala besar semakin mengancam keberlanjutan ekosistem laut. Aktivitas penangkapan ikan yang berlebihan mengurangi populasi spesies laut, yang berdampak pada rantai makanan dan keanekaragaman hayati. Sementara itu, polusi plastik dan limbah industri menciptakan beban tambahan terhadap ekosistem laut, memperparah kerusakan lingkungan.

Dilansir dari Antara, akibat dari kerusakan ekosistem tersebut bukan hanya hilangnya keanekaragaman hayati, tetapi juga tekanan yang lebih besar terhadap ekonomi dan sosial masyarakat pesisir. Selain banjir rob, perubahan kondisi laut juga bisa mengakibatkan kehilangan lahan pertanian dan sumber daya alam lainnya. Kondisi ini memicu krisis pangan di beberapa wilayah, terutama di daerah yang bergantung pada laut sebagai penghasil makanan.

Tim peneliti menambahkan bahwa langkah mitigasi harus diambil segera untuk mencegah dampak yang lebih parah di masa depan. WOA III menjadi peringatan keras bahwa waktu untuk bertindak semakin terbatas. Jika tren kenaikan permukaan laut terus berlanjut, jutaan penduduk di daerah pesisir akan terancam oleh berbagai krisis, seperti banjir rob, pengurangan area pertanian, dan keterbatasan pasokan pangan.

Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa perubahan iklim memainkan peran dominan dalam meningkatkan suhu laut dan mengurangi kapasitas air laut menyerap karbon. Hal ini mempercepat proses pemanasan global, yang kemudian berdampak pada siklus cuaca dan ekosistem bumi secara keseluruhan. Penelitian ini menegaskan bahwa manusia harus segera mengubah pola hidup dan kebijakan untuk memitigasi ancaman dari perubahan iklim.

Dengan data yang diperoleh dari WOA III, PBB mengingatkan bahwa koordinasi internasional menjadi kunci untuk menghadapi tantangan ini. Penelitian ini tidak hanya memberikan gambaran tentang keadaan saat ini, tetapi juga menggambarkan skenario masa depan yang bisa terjadi jika langkah-langkah mitigasi tidak diambil. Maka, krisis yang dihadapi dunia kini bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga isu sosial dan ekonomi yang perlu ditangani secara bersamaan.

Selain itu, kenaikan permukaan laut juga memengaruhi kehidupan masyarakat pesisir. Wilayah paling rentan terhadap perubahan iklim, seperti pulau-pulau kecil dan kota-kota pesisir, akan mengalami risiko besar karena naiknya air laut. Akibatnya, penduduk yang tinggal di sana mungkin kehilangan tempat tinggal dan sumber penghidupan mereka. Selain itu, makanan laut yang merupakan bagian dari makanan pokok bagi banyak orang akan menjadi semakin langka.

WOA III menjadi bukti bahwa perubahan iklim tidak hanya ancaman jangka panjang, tetapi juga kenyataan yang sedang terjadi di sekitar kita. Dengan memahami kecepatan kenaikan permukaan laut dan peningkatan suhu laut, dunia perlu membangun kebijakan yang lebih ketat dan berkelanjutan. Koordinasi antarnegara serta penggunaan teknologi dan sains sebagai dasar keputusan penting untuk menghadapi krisis yang semakin mendesak ini.

Leave a Comment