Gea

Latest Program: GEA Aesthetic dan Croma-Pharma Bawa PolyPhil ke Indonesia

GEA Aesthetic dan Croma-Pharma Bawa PolyPhil ke Indonesia Latest Program - Perkembangan tren perawatan kecantikan terus mengalami evolusi seiring berjalannya

Desk Gea
Published Juni 15, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

GEA Aesthetic dan Croma-Pharma Bawa PolyPhil ke Indonesia

Latest Program –

Perkembangan tren perawatan kecantikan terus mengalami evolusi seiring berjalannya waktu. Tiga puluh tahun lalu, banyak orang enggan secara terbuka membicarakan rutinitas perawatan estetika yang dijalani. Namun, seiring berlalunya waktu, minat terhadap estetika mulai berubah. Kini, masyarakat lebih suka memamerkan hasil perawatan mereka karena ingin tampil lebih menarik dan membanggakan.

“Namun, trennya kini bergerak ke arah treatment holistik dan regeneratif. Orang-orang ingin melakukan perawatan estetika, tetapi tidak ingin terlihat seperti sedang menjalani prosedur. Makin banyak yang mencari solusi yang tampak alami dan tidak mencolok,”

kata Inneke Huang, General Manager GEA Aesthetic, saat peluncuran PolyPhil dalam acara Amuse di ICE BSD, Sabtu (13/6).

Tren ini menginspirasi GEA Aesthetic bekerja sama dengan Croma-Pharma untuk memperkenalkan PolyPhil, teknologi inovatif berbasis polynucleotide (PN) yang menawarkan pendekatan regenerative aesthetics. Teknologi ini dirancang untuk memperbaiki kualitas kulit secara alami, melalui stimulasi proses regenerasi sel.

“PolyPhil adalah jawaban atas kebutuhan pasar Indonesia yang ingin perawatan estetika tidak hanya mengatasi tanda penuaan, tetapi juga meningkatkan kelembapan, elastisitas, serta kesehatan kulit jangka panjang,”

kata Huang, menjelaskan alasan kerja sama antara kedua perusahaan.

Manfaat Polynucleotide dan Kualitas Bahan Baku

Polynucleotide, molekul yang menjadi dasar PolyPhil, telah lama digunakan dalam bidang medis estetika. Namun, teknologi ini kini dianggap lebih maju karena kemampuannya memperkuat aktivitas fibroblast, sel-sel yang berperan penting dalam produksi kolagen dan elastin.

“Jangan khawatir, Anda tidak akan berubah menjadi ikan setelah menerima suntikan polynucleotide. Cukup sebagian kecil yang digunakan, cukup untuk menyalakan sinyal alami tubuh untuk memperbaiki sel yang rusak,”

terang Dr. med. Konstantin Frank, ahli medis estetika dari Munich, Jerman.

Frank menambahkan, polynucleotide dalam PolyPhil bekerja dengan cara meniru kondisi stres sel, sehingga memicu mekanisme regenerasi jaringan. Teknologi ini tidak hanya meningkatkan kelembapan dan kesehatan kulit, tetapi juga membantu menangkap radikal bebas yang merusak sel.

“Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat, karena PolyPhil membutuhkan waktu untuk mengaktifkan proses perbaikan. Namun, keunggulan teknologinya membuat manfaat yang diberikan lebih tahan lama,”

jelas Frank.

Menurutnya, penggunaan PolyPhil mirip dengan kebiasaan mengunjungi gym. Jika hanya pergi sekali sepanjang tahun, hasilnya tidak akan optimal. Oleh karena itu, diperlukan pengulangan aplikasi untuk mendapatkan efek maksimal.

“Penyuntikan pertama sebaiknya dilakukan 3-4 kali dengan jarak 3-4 minggu. Setelah itu, aplikasi ulang bisa dijadwalkan setiap setahun, lebih lama dibanding filler yang hanya bertahan delapan bulan,”

tambah dr. Ide Bagoes Insani, dokter bedah plastik dan rekonstruksi estetika yang praktik di The Clinic Menteng, RS Pondok Indah, dan RSPPN Soedirman.

Pemilihan Bahan Baku DNA Ikan Trout

Keunggulan PolyPhil juga terletak pada sumber bahan bakunya, yaitu DNA ikan trout air tawar yang berasal dari peternakan terkontrol di Eropa.

“Kami memilih DNA trout karena lebih mudah dikembangkan dalam lingkungan aquaculture yang diawasi secara ketat. Ikan ini juga mengurangi risiko kontaminasi yang mungkin terjadi pada ikan salmon yang berkembang di alam bebas,”

jelas Benjamin Frey, International Alliance Manager Croma-Pharma, Austria.

Frey menjelaskan, teknologi PN-HPT (Polynucleotide Highly Purified Technology) yang digunakan untuk memproduksi PolyPhil, memastikan standar kualitas, kemurnian, dan konsistensi produk tinggi. Proses ini melibatkan pembersihan intensif DNA ikan trout, sehingga menghasilkan polynucleotide yang lebih aman dan efektif.

“Karena keamanan dan kualitas bahan bakunya sangat menentukan, kami mengggunakan teknologi PN-HPT untuk memastikan hasil yang maksimal,”

tegasnya.

Frank juga menyoroti kelebihan DNA trout dibanding ikan lainnya. “Salmon yang diambil dari alam bisa membawa cemaran lingkungan yang tidak terduga, sementara trout yang dipelihara secara terkontrol memberikan bahan baku yang lebih terjamin,” jelas Frank. Selama penggunaan PolyPhil, belum ada laporan efek samping pada pasien-pasiennya, menurut Frank.

Kekuatan Regenerasi Alami untuk Tampilan yang Muda

PolyPhil dipromosikan sebagai solusi sederhana namun efektif untuk perawatan anti-aging. Teknologi ini memanfaatkan kekuatan regenerasi alami kulit, tanpa mengandalkan bahan kimia sintetis yang bisa menimbulkan efek samping.

“PolyPhil bukan hanya perawatan untuk mengurangi tanda penuaan, tetapi juga mengembalikan kecerahan dan kelembapan kulit. Hasilnya lebih natural dan bisa bertahan lebih lama,”

kata dr. Ide Bagoes Insani.

Menurutnya, proses penyuntikan PolyPhil tidak memerlukan metode invasif seperti filler atau botox. “Dengan aplikasi berkala, kulit akan secara perlahan pulih dan terlihat lebih segar. Ini cocok untuk berbagai jenis kulit, baik yang berminyak maupun kering,” jelas Insani.

Dalam dunia estetika, PolyPhil dianggap sebagai langkah inovatif yang menggabungkan keamanan bahan baku dan efisiensi prosedur. Kedua perusahaan, GEA Aesthetic dan Croma-Pharma, menyatakan bahwa teknologi ini diharapkan menjadi pilihan utama bagi masyarakat Indonesia yang ingin merawat kecantikan tanpa mengorbankan kesehatan.

“PolyPhil menggabungkan keunggulan teknologi eropa dan kebutuhan pasar lokal. Ini adalah perawatan yang tidak hanya mengubah tampilan, tetapi juga mengembangkan kesehatan kulit dari dalam,”

kata Frey.

Nilai tambah dari PolyPhil juga terletak pada cara kerjanya yang tidak menimbulkan rasa sakit berlebihan. “Karena prosesnya lebih alami, pasien bisa merasa nyaman dan tidak cemas. Ini adalah jalan baru dalam memperbaiki kulit secara bertahap,” jelas Frank. Dengan pengembangan teknologi yang terus berkembang, PolyPhil diharapkan menjadi bagian penting dari perawatan estetika modern, yang menekankan kealamian dan konsistensi hasil.

Perusahaan mengajak masyarakat Indonesia untuk mengeksplorasi potensi regenerative aesthetics ini, yang berharap bisa memberikan manfaat jangka panjang. “Dengan teknologi PN-HPT dan bahan baku trout yang ter

Leave a Comment