Gubernur Pramono Resmikan Penataan Jalan Rasuna Said, Kini Memiliki Wajah Baru yang Nyaman
Gubernur Pramono Resmikan Penataan Jalan Rasuna – Kawasan Jalan HR Rasuna Said di Kuningan, Jakarta Selatan, kini tampil lebih modern setelah revitalisasi yang diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, pada Minggu (21/6). Acara peresmian berlangsung di lokasi yang sebelumnya dianggap kurang teratur, dengan adanya tiang monorel yang berdiri mangkrak. Dengan adanya perbaikan ini, kawasan menjadi lebih rapi, terstruktur, dan nyaman untuk pengguna kendaraan, transportasi umum, pejalan kaki, serta penyandang disabilitas.
Perubahan Fisik dan Fasilitas
Pemprov DKI Jakarta melakukan sejumlah penataan fisik yang mencakup perbaikan ruas jalan, penyesuaian elevasi, dan pengaturan lebar jalan secara konsisten. Selain itu, proyek ini juga melibatkan pembersihan saluran drainase, penataan trotoar, serta renovasi area hijau. Fasilitas tambahan seperti street furniture dan pencahayaan jalan umum diperbarui untuk meningkatkan kenyamanan pengguna kawasan. Perubahan ini bertujuan mengoptimalkan aksesibilitas dan keselamatan berlalu lintas.
Dalam penjelasannya, Kepala Dinas Bina Marga Provinsi DKI Jakarta, Heru Suwondo, menyatakan bahwa proses pembongkaran 109 tiang monorel yang berada di sepanjang Jalan HR Rasuna Said telah selesai dalam waktu satu bulan. Pemindahan utilitas di sekitar jalan dilakukan secara rapi, sehingga tidak mengganggu alur lalu lintas. “Trotoar yang kami bangun sudah komplit semua, baik jalan maupun trotoarnya,” tutur Heru. “Kami juga menyediakan bangku di beberapa titik untuk kebutuhan pengguna pejalan kaki,” tambahnya.
Aktivasi Hari Bebas Kendaraan Bermotor
Peresmian revitalisasi Jalan HR Rasuna Said tidak hanya fokus pada penataan fisik, tetapi juga menjadi momentum mengaktifkan program Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB) atau Car Free Day (CFD) setiap akhir pekan. Kegiatan ini diharapkan meningkatkan kualitas lingkungan serta memperkaya pengalaman masyarakat dalam beraktivitas di kawasan tersebut.
Menurut Pramono, penggunaan kawasan untuk HBKB adalah bagian dari upaya mengubah paradigma mobilitas di Jakarta. “Kami ingin menunjukkan bahwa jalanan bisa menjadi lebih dinamis tanpa mengorbankan kenyamanan pengguna transportasi umum,” ujarnya. Ia juga menekankan bahwa perubahan ini mengutamakan kebutuhan warga, termasuk penyandang disabilitas yang kini memiliki akses yang lebih baik ke fasilitas umum.
Kemitraan Pembiayaan dan Penamaan Halte
Terlepas dari penataan fisik, Pramono juga memperkenalkan inisiatif kemitraan dalam pemerintahan. Ia menjelaskan bahwa penamaan Halte Setiabudi Integritas tidak menggunakan dana APBD, melainkan melalui pembiayaan kreatif atau creative financing. Langkah ini menjadi bentuk kolaborasi antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
“Pembiayaannya sepenuhnya berasal dari naming right dan iklan yang ada. Ini menunjukkan bahwa Jakarta bisa membangun kota dengan berbagai cara, tidak hanya bergantung pada APBD,” terang Pramono. Ia menambahkan bahwa penamaan halte ini menjadi simbol komitmen untuk mendorong transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan infrastruktur.
Pemprov DKI Jakarta juga menginstruksikan Dinas Sumber Daya Air untuk membersihkan aliran Kali Cideng yang berada di sepanjang Jalan HR Rasuna Said. Tindakan ini dilakukan sebagai bagian dari peningkatan kualitas lingkungan dan kebersihan kawasan. “Kali Cideng menjadi salah satu elemen penting dalam ekosistem kota, sehingga kebersihannya harus diperhatikan secara berkala,” kata Pramono.
Sebelum revitalisasi, Jalan HR Rasuna Said terbagi menjadi dua jalur, yakni jalur cepat dan jalur lambat. Perbedaan elevasi di antara dua jalur ini menyebabkan ketidaknyamanan bagi pengguna kendaraan dan pejalan kaki. Namun, setelah penataan, jalan menjadi lebih luas dan rata. Ini memberikan ruang yang lebih merata untuk kegiatan lalu lintas dan kegiatan sosial masyarakat.
Pemprov DKI Jakarta berharap perubahan ini tidak hanya memperbaiki tampilan kota, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup warga. “Kami ingin menunjukkan bahwa Jakarta terus berkembang dengan cara yang inklusif dan berkelanjutan,” jelas Pramono. Ia menambahkan bahwa keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan kawasan menjadi kunci keberhasilan proyek ini.
Sebagai bagian dari inisiatif pemerintah, perubahan fisik di Jalan HR Rasuna Said juga melibatkan keterlibatan pengelolaan kebersihan dan pengaturan ruang publik. Pemda DKI Jakarta bersama pihak terkait melakukan koordinasi untuk memastikan semua fasilitas di kawasan tersebut bisa dimanfaatkan secara optimal. “Dengan keterlibatan semua pihak, hasilnya lebih maksimal,” ungkap Heru Suwondo.
Dalam wawancara terpisah, Heru Suwondo juga menyebutkan bahwa penataan Jalan HR Rasuna Said menggabungkan teknologi modern dan konsep desain yang ramah lingkungan. “Kami menggunakan material yang tahan lama dan teknik konstruksi yang minim dampak terhadap lingkungan sekitar,” jelasnya. Ia menegaskan bahwa proyek ini merupakan bagian dari program jangka panjang untuk meningkatkan kualitas ruang publik di Ibu Kota.
Perubahan yang terjadi di Jalan HR Rasuna Said menunjukkan komitmen Pemprov DKI Jakarta untuk memberikan layanan publik yang lebih baik. Dengan adanya penataan, warga Jakarta kini memiliki akses yang lebih nyaman ke fasilitas umum, termasuk area pedestrian yang lebih terawat. “Kami juga mengoptimalkan jaringan transportasi umum agar lebih efisien,” imbuh Pramono.
Pembiayaan kreatif yang digunakan dalam penamaan Halte Setiabudi Integritas menjadi contoh bagaimana Jakarta bisa mengatasi tantangan anggaran. “Kemitraan ini membuka peluang bagi pihak swasta untuk berkontribusi dalam pembangunan kota,” papar Pramono. Dengan pendekatan ini, pemerintah bisa menjaga kualitas infrastruktur tanpa mengurangi anggaran untuk program lain.