Komisi XI DPR Ingatkan Efek Domino Pelemahan Rupiah
Key Strategy – Pasar keuangan dalam negeri mengalami tekanan jual besar-besaran di awal pekan ini, yang berdampak signifikan pada kondisi pasar modal dan nilai tukar mata uang. Dalam upaya merespons krisis ini, anggota Komisi XI DPR RI Marwan Jafar meminta pemerintah serta otoritas moneter untuk segera mengambil langkah darurat yang tepat, efektif, dan terukur. Menurutnya, tindakan cepat diperlukan guna memulihkan kepercayaan pasar yang mulai terguncang.
Pada hari Senin (8/6), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam hingga 4 persen, atau 246 poin, mencapai level 5.349. Sementara itu, nilai tukar rupiah terus melemah, menembus Rp18.176 per dolar AS. Kondisi ini menunjukkan tingkat ketidakstabilan yang mengkhawatirkan, terutama mengingat tekanan eksternal yang semakin berat dalam beberapa bulan terakhir.
Marwan Jafar, mantan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, menilai pelemahan IHSG berakar pada kepanikan investor yang memicu aksi penjualan masif. Menurutnya, jika sentimen negatif ini tidak segera diatasi melalui komunikasi yang jelas, risiko aliran dana asing ke luar negeri (capital outflow) akan makin meningkat. Hal ini berpotensi memperburuk kinerja nilai tukar rupiah, yang sudah terpuruk sejak awal bulan.
“Sentimen investor memegang kendali besar. Ketika pelaku pasar melihat pemerintah memiliki strategi mitigasi yang jelas dan respons yang cepat, tekanan terhadap rupiah bisa diredam. Sebaliknya, jika ketidakpastian dipelihara, pasar keuangan kita bisa lumpuh,” ujar Marwan, yang juga merupakan legislator dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan daerah pemilihan Jawa Tengah III.
Krisis ekonomi yang terjadi kini, menurut Marwan, bukan hanya sekadar fluktuasi angka di papan saham, tetapi juga menjadi ancaman bagi kehidupan masyarakat umum. Pelemahan rupiah hingga Rp18.000-an akan langsung menaikkan biaya impor bahan baku industri. Dampaknya, inflasi harga barang kebutuhan pokok di pasar akan semakin terasa, terutama bagi masyarakat ekonomi menengah ke bawah.
Mengenai langkah-langkah yang perlu diambil, Marwan menekankan pentingnya kepastian regulasi dan kebijakan yang terukur. Ia mengatakan, faktor psikologis pasar dan transparansi kebijakan lebih dominan menentukan kesehatan ekonomi dibandingkan dengan data fundamental yang hanya tercatat di kertas. “Kita harus fokus pada langkah nyata yang mampu melindungi daya beli rakyat, bukan sekadar retorika untuk menenangkan masyarakat,” tambahnya.
Ketidakstabilan pasar keuangan juga memicu kekhawatiran terhadap keberlanjutan perekonomian. Dengan IHSG yang turun 4 persen dan rupiah melemah ke Rp18.176, pelaku ekonomi mulai mempertanyakan keandalan kebijakan moneter dan kestabilan sistem keuangan nasional. Marwan mengingatkan bahwa jika pemerintah tidak segera memberikan kejelasan, efek domino dari pelemahan rupiah akan meluas ke sektor lain seperti perbankan, industri, dan konsumsi masyarakat.
Dalam konteks global, pelemahan rupiah mencerminkan ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran di pasar valuta asing. Sementara kebijakan moneter yang ketat dan tingkat bunga yang tinggi menjadi faktor penunjang, masyarakat juga mulai merasakan tekanan ekonomi akibat kenaikan harga kebutuhan pokok. Kondisi ini menimbulkan risiko penurunan daya beli dan peningkatan angka kemiskinan, jika tidak diatasi secara terpadu.
Mengenai langkah darurat, Marwan menyarankan pemerintah memperhatikan aspek psikologis pasar. Ia menekankan bahwa kejelasan komunikasi dan kebijakan yang konsisten menjadi kunci untuk menenangkan investor dan masyarakat. Contohnya, adanya kepastian bahwa langkah-langkah pemerintah akan memperkuat cadangan devisa dan mengurangi ketergantungan pada impor. “Jika pemerintah bisa memperlihatkan strategi yang jelas, pasar akan lebih percaya dan tekanan pada rupiah akan berkurang,” jelasnya.
Di sisi lain, kejatuhan IHSG dan pelemahan rupiah juga mencerminkan perubahan kebijakan moneter yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Kenaikan suku bunga acuan, disertai dengan tekanan inflasi yang tinggi, mengakibatkan aliran dana asing yang tidak stabil. Meski pemerintah mengklaim langkah-langkah ini untuk menjaga keseimbangan ekonomi, efeknya justru mengguncang pasar keuangan domestik. Marwan menilai kebijakan tersebut perlu dinilai kembali guna menyesuaikan dengan kondisi nyata.
Kondisi ini juga menjadi peringatan bagi pemerintah agar tidak hanya fokus pada aspek teknis, tetapi juga mampu memahami dampak psikologis terhadap masyarakat. Selain mengurangi risiko inflasi, pelemahan rupiah juga berpotensi menghambat investasi domestik dan meningkatkan beban utang luar negeri. Dengan demikian, keputusan yang diambil harus mencakup aspek kebijakan jangka panjang dan respons jangka pendek secara seimbang.
Komisi XI DPR menilai pelemahan rupiah dan IHSG tidak bisa diabaikan. Kedua fenomena ini berpotensi mengganggu kepercayaan publik terhadap sistem keuangan dan menyebabkan gelombang krisis yang lebih luas. Marwan mengimbau pemerintah untuk segera mengambil langkah-langkah strategis, termasuk memperkuat intervensi di pasar valuta asing dan memberikan jaminan stabilisasi ekonomi kepada rakyat. “Kita harus memastikan bahwa langkah-langkah ini tidak hanya memperbaiki angka, tetapi juga membawa dampak nyata bagi kehidupan masyarakat sehari-hari,” pungkasnya.